Pertanyaan “Apakah Tuhan Itu?”  telah memusingkan umat manusia selama berabad-abad dan akan terus menantang pemahaman logis selama kita hidup dengan konsep bahwaGambar di atas sana ada suatu surga tempat tuhan duduk menghakimi umat manusia dan menghukum orang yang telah bertindak tidak benar. Pemikiran-pemikiran terkemuka sepanjang sejarah telah berusaha menemukan jawaban logis terhadap pertanyaan yang sulit dan tidak menyenangkan ini, dengan hasil hanya sedikit.

Beberapa orang menemukan bahwa tuhan ada di dalam hati setiap insan dalam bentuk cinta kasih, bela rasa, pengertian, dan sifat-sifat positif lainnya yang mampu dimiliki manusia tetapi sering kali ditekan olehnya. Tampaknya, dari pada kita mencoba menegaskan logika yang ketat atau menempatkan suatu citra yang solid pada konsep kita tentang tuhan, kita harus mengikuti teladan mereka dan mengerahkan energi yang lebih besar untuk secara intuitif memahami makna tuhan.

Gagasan umum yang mempersatukan semua kehidupan banyak utusan tuhan adalah cinta, bela rasa, pengertian, komitmen, dan hormat serta penghargaan kepada semua makhluk hidup. Karena itu, dapat diasumsikan bahwa dengan memperlihatkan sifat-sifat ini mereka menunjukkan kepada umat manusia lainnya cara kita seharusnya hidup sebagaimana diharapkan sang pencipta kita.

(Ongko A. Jatmiko)

Jakarta, 06 maret 2012