bersiap-siap menghadapi balasan si pengintimidasi

 
GambarSaya telah melepaskan rasa takut dan melawan si pengintimidasi dengan memainkan permainan mereka. Saat perasaan tidak nyaman mulai masuk, reaksi tercepat saya adalah melenyapkan perasaan ini dengan melangkah mundur. Saya tetap kuat dan mengingatkan diri saya bahwa perasaan tidak nyaman ini normal sekaligus positif. Saya sedang mulai merasa memegang kendali ketika tiba-tiba si pengintimidasi mempertahankan dirinya dengan balasannya sendiri. Hal ini melonjakkan level ketidaknyamanan saya dan menurunkan level kepercayaan diri saya. Apa lagi sekarang ?

     Ketika para pengintimidasi menyadari bahwa saya tidak bekerja sama, mereka mencoba meningkatkan perasaan tidak nyaman itu sehingga saya melangkah mundur dan bekerja sama. Seorang pengintimidasi perlu korban untuk bekerja sama, baik itu dengan cara mundur maupun kehilangan kesabaran mereka.
     Pengintimidasi mulai menerapkan permainan pikiran kepada saya. Mari kita jalankan beberapa skenario. Yang penting adalah membiasakan diri dengan proses memainkan permainan seorang pengintimidasi. 

PENGINTIMIDASI    : “Kami tidak punya apa-apa agar kamu mendapatkan pendidikan yang baik dan inikah caramu memblas kami?”

RESPONS                   : “Apakah kamu berusaha membuat saya merasa bersalah karena tidak melakukan apa yang kamu inginkan?”

PENGINTIMIDASI    : (membungkam)

RESPONS                   : “Sepertinya kamu berusaha menghukum saya dengan tidak berbicara,”ATAU, “Apakah kamu berusaha membuat saya tidak nyaman dengan cara tidak berbicara.”

PENGINTIMIDASI   :  “Jika kamu benar-benar sahabat yang mennyayangi saya, Kamu pasti akan melakukannya,”

RESPONS                   : “Sepertinya kamu berusaha membuat saya tidak nyaman karena tidak melakukan apa yang kamu inginkan.”

Perhatikan bahwa dalam proses-proses ini, usaha menangkis rasa tidak nyaman (yang merupakan tujuan utama sebuah permainan pikiran) berhasil dengan sangat baik. Respons ini dapat digunakan dalam hampir segala situasi.

(Ongko A. Jatmiko)

Jakarta, 06 maret 2012