Walaupun bicara mengenai keberhasilan atau kegagalan ini menarik, kita sebaiknya tidak melangkah terlalu jauh. Sebelum anda bisa merekam album yang sukses, anda harus punya alat untuk menyalurkan expresi musik anda: dengan kata lain, sebuah instrumen. Bagiku, instrumen itu adalah gitar. Meskipun aku sudah mencoba bermain bas dan terkadang drum, aku lebih tertarik pada gitar.

Meskipun begitu, sebagai pemain gitar, aku tidak mau ada pemain synthesizer yang memberi tahu apa yang harus kulakukan dengan SG-ku, karena itu aku akan menghindari mitos dan legenda yang menyinggung perasaan para pemain lain.

Apa pun yang anda sandang di pundak anda, membeli instrumen pertama anda itu masalah besar. Membeli instrumen sejati pertama anda malah masalah yang lebih besar lagi karena rocker remaja hampir selalu mengawalinya dengan versi diskon atau tiruan merek popular.

Ini sebagian karena keraguan orangtua. Kebanyakan orangtua para penggemar Satriani tidak rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk membeli gitar Fender Stratocaster, Gibson Les Paul, yang kemudian hanya disandarkan di pintu lemari, atau berganti fungsi menjadi rak dasi. Karena itu, tiruannya muncul dan, walaupun hampir selalu punya kekurangan di bandingkan merek aslinya.

Orang tua anak-anak pemuja rock-and-roll tidaklah jika menyarankan para musisi muda untuk mendapatkan senjata pertama mereka dari tingkat dasar.

Beberapa pemain gitar kelas dunia yang paling hebat menerapkannya secara extrem, yaitu membuat instrumen mereka sendiri, bikan membeli dari show room. Brian May gitaris Queen membut gitar red spesialnya yang tersohor itu bersama ayahnya, dengan menggunakan sepotong kayu mahoni yang dicomot dari tumpukan sampah temannya sebagai leher gitar, dan papan kayu ek tua untuk badan gitar. Biaya pembuatan itu $50 (tidak termasuk setengah dolar yang digunakan May untuk membeli pick gitar), dan dia memainkan sepanjang kariernya.